Harga Kopi Robusta Bengkulu Naik 40%, Ekspor ke Eropa Melonjak Tajam
Permintaan kopi specialty dari Bengkulu terus meningkat di pasar Eropa. Petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong merasakan manfaat langsung dari tren ini.
Kabar gembira datang bagi puluhan ribu petani kopi di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, Bengkulu. Harga kopi Robusta asal Bengkulu mengalami kenaikan signifikan hingga 40% dalam enam bulan terakhir, dipicu oleh meningkatnya permintaan dari pasar specialty coffee Eropa, terutama dari Belanda, Jerman, dan Skandinavia. Jika sebelumnya harga di tingkat petani berkisar Rp 28.000 per kilogram, kini sudah tembus Rp 39.000 per kilogram untuk kualitas premium.
Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Beberapa tahun belakangan, komunitas specialty coffee global mulai memberikan perhatian serius terhadap karakter unik kopi Robusta Bengkulu: profil rasa yang earthy dengan sentuhan dark chocolate, acidity rendah, dan body tebal yang cocok untuk espresso blend berkualitas tinggi. Beberapa roastery ternama di Amsterdam dan Berlin bahkan sudah secara eksplisit mencantumkan "Bengkulu Robusta" sebagai single origin dalam menu mereka.
Salah satu petani yang merasakan langsung dampak positifnya adalah Jumadi (52), pemilik kebun kopi seluas 3 hektar di Kecamatan Bermani Ilir, Kepahiang. "Tahun lalu penghasilan bersih saya dari kopi sekitar Rp 45 juta setahun. Tahun ini kalau harga tetap segini, bisa lebih dari Rp 60 juta. Anak saya yang kuliah di Bengkulu sudah tidak perlu khawatir soal biaya," ujarnya dengan senyum lebar saat ditemui di kebunnya.
Asosiasi Petani Kopi Bengkulu (APKB) mencatat volume ekspor kopi Bengkulu ke Eropa naik 65% secara year-on-year pada kuartal pertama 2026. Total ekspor mencapai 4.800 ton, dibandingkan 2.900 ton pada periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor ini setara dengan devisa sebesar Rp 187 miliar, menempatkan kopi sebagai komoditas ekspor kedua terbesar Bengkulu setelah batubara.
Namun kenaikan ini juga membawa tantangan. Kapasitas produksi dan processing yang ada belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan. "Kami butuh lebih banyak mesin wet mill, dry mill, dan fasilitas cupping agar bisa menjamin konsistensi kualitas yang diminta pasar internasional," kata Ketua APKB, Herman Siregar. Ia berharap pemerintah pusat bisa mengalokasikan dana dari program Hilirisasi Komoditas untuk memperkuat infrastruktur pengolahan kopi di tingkat kabupaten.
Pemerintah Provinsi Bengkulu sendiri sudah menyiapkan road map pengembangan kopi hingga 2030 yang mencakup sertifikasi organik massal, pelatihan cupping bagi petani, dan pembangunan "Coffee Experience Center" di Kepahiang sebagai destinasi agrowisata kopi terpadu. Langkah-langkah ini diharapkan bisa mengunci posisi Bengkulu sebagai salah satu produsen kopi Robusta premium terkemuka di Asia Tenggara.