Indeks Literasi Digital Indonesia Naik ke Peringkat 3 ASEAN
Laporan terbaru ASEAN Digital Literacy Index menempatkan Indonesia di posisi ketiga, naik empat peringkat dibanding tahun lalu, didorong program Prakerja Digital.
Indonesia berhasil melompat empat peringkat dalam ASEAN Digital Literacy Index 2026, kini menempati posisi ketiga di kawasan Asia Tenggara dengan skor 68,4 dari 100. Sebelumnya pada 2025, Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan skor 59,1. Lompatan dramatis ini menempatkan Indonesia di bawah Singapura (82,1) dan Malaysia (74,3), namun di atas Thailand (65,8) dan Vietnam (63,2).
Laporan yang dirilis oleh ASEAN Digital Economy Framework (ADEF) ini mengukur literasi digital dari empat dimensi utama: kecakapan menggunakan perangkat digital, keamanan siber, etika digital, dan kemampuan menciptakan konten digital. Indonesia menunjukkan kemajuan paling signifikan di dimensi kecakapan penggunaan perangkat (+14,2 poin) dan kemampuan menciptakan konten digital (+11,7 poin).
Kenaikan pesat ini sebagian besar dikreditkan kepada program Prakerja Digital yang diluncurkan pemerintah pada pertengahan 2025. Program ini memberikan pelatihan digital gratis kepada 8,5 juta pekerja Indonesia dalam 12 bulan, mencakup materi dari dasar penggunaan smartphone hingga keterampilan coding dan digital marketing tingkat menengah. Berdasarkan evaluasi mandiri, 68% peserta Prakerja Digital berhasil mendapatkan pekerjaan baru atau meningkatkan pendapatan dalam enam bulan setelah pelatihan.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menyambut pencapaian ini dengan antusias namun tetap realistis. "Ini adalah kemajuan yang patut kita syukuri, namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Peringkat ketiga ASEAN bukan titik akhir — kita harus terus bergerak untuk menutup gap dengan Singapura dan Malaysia, sekaligus memastikan kemajuan ini dirasakan merata dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga pelosok desa," tegasnya.
Salah satu tantangan terbesar yang diidentifikasi laporan ini adalah kesenjangan literasi digital antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, skor literasi digital bisa mencapai 78–82. Namun di daerah seperti Papua, Maluku, dan sebagian Kalimantan, skor masih berkisar di 42–50. Pemerintah berencana mengalokasikan 40% anggaran literasi digital 2027 untuk program khusus di wilayah tertinggal.
Di sisi sektor swasta, platform-platform digital besar seperti Google, Meta, dan Gojek juga turut berkontribusi melalui program CSR literasi digital mereka. Google Gapura Digital sudah melatih 700.000 UMKM Indonesia dalam tiga tahun terakhir, sementara Gojek Academy telah memberikan pelatihan kepada 1,2 juta mitra driver dan merchant. Sinergi antara program pemerintah dan inisiatif swasta ini diyakini menjadi kunci keberhasilan Indonesia dalam mengejar ketertinggalan literasi digital.