Tiga Startup Indonesia Raih Pendanaan Series B Senilai Total $120 Juta
Tiga startup di sektor agritech, healthtech, dan edtech berhasil menutup putaran pendanaan Series B dengan total investasi $120 juta dari investor global dan regional.
Ekosistem startup Indonesia kembali menunjukkan vitalitasnya di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam satu pekan, tiga startup asal Indonesia berhasil menutup putaran pendanaan Series B dengan total nilai mencapai $120 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor terhadap pasar digital Indonesia belum goyah, bahkan di tengah pengetatan suku bunga global.
Startup pertama adalah TaniHub Pro, platform agritech yang menghubungkan 180.000 petani dengan jaringan distribusi modern. Mereka berhasil meraih $55 juta yang dipimpin oleh Temasek Holdings Singapura dengan partisipasi dari Mandiri Capital Indonesia. Dana ini akan digunakan untuk mengembangkan infrastruktur cold chain di 12 kota baru dan membangun sistem prediksi harga komoditas berbasis AI yang lebih canggih. CEO TaniHub Pro, Wahyu Sodikin, menyebut putaran ini sebagai pembuktian bahwa agritech Indonesia sudah masuk fase maturitas.
Startup kedua adalah SehatKu, platform healthtech yang menyediakan layanan telemedisin, manajemen rekam medis digital, dan marketplace obat resep. Mereka menutup Series B sebesar $38 juta yang dipimpin oleh East Ventures dan Openspace Ventures. SehatKu sudah melayani 4,2 juta pasien aktif di 34 provinsi dan bermitra dengan 2.100 dokter serta 800 apotek. Pendanaan ini akan difokuskan pada pengembangan fitur monitoring kesehatan berbasis wearable device dan ekspansi ke layanan kesehatan ibu dan anak.
Startup ketiga adalah KamuBisa, platform edtech yang berfokus pada pelatihan vokasional untuk tenaga kerja Indonesia. Dengan $27 juta dari putaran ini — dipimpin oleh Prosus Ventures dan Monk's Hill Ventures — KamuBisa berencana meluncurkan 200 program pelatihan baru di bidang teknologi, manufaktur, dan jasa. Platform ini sudah membantu 620.000 pengguna mendapatkan sertifikasi industri yang diakui oleh lebih dari 1.500 perusahaan mitra.
Para analis melihat tren ini sebagai indikator pemulihan yang kuat setelah winter funding yang sempat melanda ekosistem startup Asia Tenggara pada 2023–2024. "Investor kini lebih selektif dan mencari startup dengan unit economics yang sehat, bukan hanya pertumbuhan pengguna. Ketiga startup ini memenuhi kriteria tersebut — mereka punya jalur menuju profitabilitas yang jelas," kata analis venture capital dari Momentum Works, Jianggan Li.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Investasi menyatakan akan terus mendorong pertumbuhan ekosistem startup melalui regulasi yang supportif dan insentif fiskal. Program Indonesia Start-up Center yang beroperasi di 10 kota besar juga akan diperluas ke 5 kota lagi pada tahun ini, termasuk Makassar, Manado, dan Bengkulu, untuk memastikan talenta digital dari seluruh penjuru Indonesia mendapat akses yang sama terhadap ekosistem inovasi.