Live
◆Pemkot Bengkulu luncurkan 5.000 program digitalisasi UMKM◆Rafflesia arnoldii mekar di TNKS, diameter capai 95 cm◆Harga kopi Robusta Bengkulu naik 40% di pasar internasional◆OpenAI rilis model o4-Pro yang mampu perbaiki bug produksi sendiri◆QRIS nasional targetkan 100% transaksi retail akhir 2026◆Startup Indonesia raih $120 juta pendanaan Series B◆Indeks literasi digital Indonesia naik ke peringkat 3 ASEAN◆Batik Besurek Bengkulu viral TikTok, pesanan tembus 10.000 unit◆Pemkot Bengkulu luncurkan 5.000 program digitalisasi UMKM◆Rafflesia arnoldii mekar di TNKS, diameter capai 95 cm◆Harga kopi Robusta Bengkulu naik 40% di pasar internasional◆OpenAI rilis model o4-Pro yang mampu perbaiki bug produksi sendiri◆QRIS nasional targetkan 100% transaksi retail akhir 2026◆Startup Indonesia raih $120 juta pendanaan Series B◆Indeks literasi digital Indonesia naik ke peringkat 3 ASEAN◆Batik Besurek Bengkulu viral TikTok, pesanan tembus 10.000 unit
World'sGadget

Apple Vision Pro 2 Masuk Indonesia, Harga Mulai Rp 55 Juta

Apple resmi mengumumkan ekspansi Vision Pro 2 ke 40 negara termasuk Indonesia. Perangkat spatial computing generasi kedua ini hadir dengan prosesor M4 dan baterai lebih tahan lama.

SSarah Kim
·3 hari lalu·4 menit baca
Apple Vision Pro Technology

Apple secara resmi mengumumkan ekspansi global Vision Pro 2, perangkat spatial computing generasi kedua mereka, ke 40 negara termasuk Indonesia. Ini adalah pertama kalinya Apple langsung memasukkan Indonesia dalam gelombang peluncuran global sebuah produk baru, tanpa menunggu berbulan-bulan seperti yang terjadi pada iPhone dan Mac generasi-generasi sebelumnya. Harga resmi di Indonesia dimulai dari Rp 55 juta untuk kapasitas 256 GB.

Vision Pro 2 hadir dengan peningkatan signifikan dibanding generasi pertama. Ditenagai oleh chip M4 terbaru Apple, perangkat ini menawarkan performa 3D rendering 45% lebih cepat dengan konsumsi daya yang justru lebih rendah. Kamera luar kini beresolusi 4K dengan kemampuan passthrough yang diklaim hampir tidak bisa dibedakan dari penglihatan mata telanjang — sebuah lompatan besar dari kualitas passthrough generasi pertama yang masih terlihat artificial. Berat perangkat juga berkurang 180 gram menjadi 420 gram, membuat penggunaan extended session jauh lebih nyaman.

Yang paling dinantikan adalah peningkatan baterai. Baterai eksternal yang menjadi "Achilles heel" generasi pertama kini digantikan oleh sistem baterai internal 3 jam yang bisa dikembangkan hingga 6 jam dengan battery case opsional. EyeSight — fitur display luar yang menampilkan mata pengguna ke orang lain di sekitarnya — juga mendapat pembaruan besar dengan resolusi lebih tinggi dan delay yang lebih rendah, membuat interaksi sosial saat memakai headset terasa lebih natural.

Apple sekaligus mengumumkan ekosistem aplikasi yang jauh lebih matang untuk Vision Pro 2. Lebih dari 1.500 aplikasi native sudah dioptimalkan untuk spatial computing, termasuk aplikasi produktivitas dari Microsoft (Office Suite), aplikasi kreatif dari Adobe (Photoshop dan Premiere dalam versi spatial), platform gaming dari berbagai publisher AAA, dan ekosistem hiburan dari Netflix, Disney+, dan YouTube yang semuanya sudah mendukung konten 3D dan 180° serta 360°.

Di Indonesia, Apple bermitra dengan Erafone dan iBox sebagai pengecer resmi, serta menyiapkan "Vision Pro Experience Zone" di Apple Premium Reseller utama di Jakarta, Surabaya, Bali, Bandung, dan Medan. Zona ini memungkinkan calon pembeli mencoba perangkat dengan didampingi spesialis produk Apple selama sesi demo 30 menit secara gratis dengan reservasi.

Respons pasar Indonesia terlihat antusias namun realistis. Di komunitas tech enthusiast, harga Rp 55 juta masih dianggap sebagai barrier yang sangat tinggi untuk adopsi massal — bahkan di kalangan profesional kreatif yang menjadi target utama produk ini. Namun para kreator konten, arsitek, dan designer yang sudah mencoba generasi pertama di luar negeri umumnya sepakat bahwa Vision Pro 2 adalah lompatan generasional yang membuat spatial computing mulai terasa seperti alat kerja yang sesungguhnya, bukan sekadar gadget eksperimental.

Ditulis oleh Sarah Kim
← Kembali ke World's