Live
◆Pemkot Bengkulu luncurkan 5.000 program digitalisasi UMKM◆Rafflesia arnoldii mekar di TNKS, diameter capai 95 cm◆Harga kopi Robusta Bengkulu naik 40% di pasar internasional◆OpenAI rilis model o4-Pro yang mampu perbaiki bug produksi sendiri◆QRIS nasional targetkan 100% transaksi retail akhir 2026◆Startup Indonesia raih $120 juta pendanaan Series B◆Indeks literasi digital Indonesia naik ke peringkat 3 ASEAN◆Batik Besurek Bengkulu viral TikTok, pesanan tembus 10.000 unit◆Pemkot Bengkulu luncurkan 5.000 program digitalisasi UMKM◆Rafflesia arnoldii mekar di TNKS, diameter capai 95 cm◆Harga kopi Robusta Bengkulu naik 40% di pasar internasional◆OpenAI rilis model o4-Pro yang mampu perbaiki bug produksi sendiri◆QRIS nasional targetkan 100% transaksi retail akhir 2026◆Startup Indonesia raih $120 juta pendanaan Series B◆Indeks literasi digital Indonesia naik ke peringkat 3 ASEAN◆Batik Besurek Bengkulu viral TikTok, pesanan tembus 10.000 unit
World'sLingkungan

Tiongkok Klaim Teknologi Carbon Capture Termurah Sepanjang Sejarah, $15 per Ton

Perusahaan energi milik negara Tiongkok mengumumkan terobosan dalam teknologi penangkapan karbon dioksida langsung dari udara dengan biaya yang turun 80% dibanding 2020.

LLin Wei
·2 hari lalu·6 menit baca
Climate Tech Carbon Capture

China Energy Investment Corporation (CEIC), perusahaan energi terbesar di dunia milik negara Tiongkok, mengumumkan terobosan yang bisa mengubah lanskap perjuangan melawan perubahan iklim global. Mereka mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi Direct Air Carbon Capture and Storage (DACCS) dengan biaya operasional hanya $15 per ton CO2 — turun dramatis 80% dari biaya rata-rata industri pada 2020 yang berkisar $80–100 per ton.

Teknologi baru ini menggunakan material penyerap karbon berbasis zeolite modifikasi yang dikembangkan bersama Institut Kimia Tiongkok selama lima tahun terakhir. Material ini diklaim 4 kali lebih efisien dalam menyerap CO2 dari udara ambient dibanding sorbent konvensional, dan bisa diregenerasi menggunakan panas rendah dari energi surya sehingga konsumsi energi keseluruhan jauh lebih kecil. Fasilitas pilot berkapasitas 50.000 ton CO2 per tahun sudah beroperasi di Provinsi Gansu sejak Januari 2026.

Jika klaim ini terbukti valid dan dapat diskalakan, dampaknya terhadap target iklim global akan sangat besar. Dengan biaya $15 per ton, penangkapan dan penyimpanan seluruh emisi CO2 tahunan Indonesia (sekitar 900 juta ton) secara teori "hanya" memerlukan biaya $13,5 miliar per tahun — angka yang masih sangat besar, namun mulai terlihat dalam jangkauan kalkulasi kebijakan iklim. Panel IPCC sebelumnya menyatakan bahwa carbon capture perlu mencapai biaya di bawah $50 per ton agar secara ekonomi layak untuk diintegrasikan dalam portofolio mitigasi iklim.

Namun komunitas ilmiah internasional menyambut klaim ini dengan kehati-hatian. Beberapa ilmuwan terkemuka mengingatkan bahwa angka-angka ini belum melalui peer review independen dan belum diverifikasi di skala komersial. Dr. Jennifer Wilcox, peneliti carbon capture dari University of Pennsylvania, menyatakan bahwa "melihat angka $15 per ton tanpa data teknis yang komprehensif membuat saya skeptis, meski saya berharap klaim ini benar. Biaya ini secara fisika termodinamika cukup menantang untuk dicapai pada skala besar."

Tiongkok sendiri telah memasang target ambisius dalam carbon neutrality: net zero pada 2060. Pemerintahnya sudah berkomitmen membangun kapasitas carbon capture sebesar 200 juta ton per tahun pada 2030 sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Teknologi DACCS yang murah akan menjadi komponen krusial dalam mencapai target ini, terutama untuk mengoffset emisi dari sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi seperti semen, baja, dan penerbangan.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan emisi terbesar sekaligus memiliki potensi penyimpanan CO2 yang sangat besar di formasi geologi Sumatera dan Kalimantan, menyambut perkembangan ini dengan seksama. Kementerian ESDM menyatakan sedang menjajaki kemungkinan kerjasama teknologi dengan pihak Tiongkok untuk mengadaptasi teknologi ini ke kondisi tropis Indonesia — jika verifikasi independen terhadap klaim biaya tersebut terbukti valid.

Ditulis oleh Lin Wei
← Kembali ke World's